oleh

Perjuangan Petani Menghasilkan Butiran Nasi

Cerpen karangan : Syukri

Tanggal terbit       : 26 April 2018

GAYO LUES RADAR NEWS-Pernah suatu hari ketika aku sedang melintas dihamparan sawah milik para petani disalah satu Desa di Kecamatan Kutapanjang Kabupaten Gayo Lues, tepatnya Desa Rema Baru , dari jauh terlitas olehku seorang petani yang sedang menggarap sawahnya, perlahan aku mendekati kemudian kusapa

“selamat siang Pak” kataku, karena saat itu kulihat jam ditangan sudah menunjukan pukul 11: 45 wib.

bapak itupun menjawab “selamat siang juga” cetusnya seraya tersenyum dari dalam petakan sawah.

Sejenak kutatap tubuhnya yang penuh keringat, dengan memakai baju kerja yang lusuh, Akupun menjabat tangannya dengan maksud ingin bersalaman.

Karena kedatanganku petani itupun menghentikan pekerjaanya, kemudian melangkahkan kaki keatas pematang sawah. Namun aku merasa tak enak hati, karena kedatanganku beliau menghentikan pekerjaanya.

“Maaf pak karena kedatanganku mengganggu pekerjaan bapak” Kataku

” tidak apa-apa jam segini bapak biasanyapun sudah istrahat” dia menjawab.

Setelah itu Pejuang pangan inipun mengajaku berteduh kedalam pondok kecil diujung sawah garabpanya, di tempat ini kami kembali bercerita tentang budidaya pertanian yang di terapkan olehnya.

Dikatakan petani ini, sawah yang Dia garap merupakan lahan milik rekan sekampung yang dia sewa, dengan Lues 1 hektar dikelola bersama keluarga yang dia bina saat ini.

Aku mencoba bertanya, tentang pengelolaan pertanian yang di terapkan khususnya dibidang budidaya tanaman padi yang dikelola oleh petani ini.

Sesuai penjelasanya, dari pengolahan tanah sampai dengan umur tanaman padi mencapai satu bulan, haya pengolahan tanah pertama menggunakan jasa hentraktor, selebihnya dikerjakanya bersama anak dan seorang istri, mungkin sampai panen nanti hanya tenaga keluarga yang akan diandalkan, Hal ini terkendala oleh modal, karena ekonomi hanya pas-pasan saja.

Untuk mengerjakan lahan seluas 1 hektar tersebut petani ini butuh waktu satu bulan baru bisa menanam, dalam kurun waktu satu bulan itu dia setiap hari harus membanting tulang pergi pagi pulang sore hari.

Sementara untuk modal pemeliharaan seperti Pupuk dipinjam dari pemilik lahan, termasuk apa bila ada serangan hama ataupun penyakit dia juga bertumpuan kepada pemilik lahan untuk membelikan pestisida , setiap modal yang dia pinjam itu akan dikembalikan setelah tanaman padi panen.

Untuk biaya produksi hampir semua dia pinjam, kecuali untuk benih itu di berikan oleh pemeritah melalui kelompok tani.

Hari-hariNya dia lewati dipetakan sawah yang dia garab, demi mengharapkan hasil panen yang nantinya bisa dijadikan sebagai penopang ekonomi keluarga.

Setelah panen nanti sebagian gabah akan di berikan kepada pemilik sawah sebagai sewa, sementara yang lainya akan dijual untuk memenuhi kebutuhan anak yang masih berada di bangku pendidikan, dan sedikit disisihkan untuk makan keluarga

Demikianlah perjuangan pak Tani yang tak kenal lelah, tak peduli panas dan hujan, demi tanaman padinya yang diyakini dengan pasti kelak akan ia panen. Ia yakin suatu hari nanti akan menikmati hasil jerih payahnya hari ini.

Iya pantang menyerah menghadapi segala tantangan dan hambatan yang menghadang. Ia bulatkan tekad untuk mempersembahkan yang terbaik

Namun Disadari atau tidak, terkadang kita tidak berpikir panjang tentang nasi yang tersisa dipiring dibuang sia-sia. Bersyukur saat kita dan setiap anggota keluarga kita mampu menghargai hingga butir nasi terakhir dalam setiap piring kita, namun demikian situasi tersebut tidak jarang bahkan sering kita temui.

Nasi bagi kita, keberadaannya terasa hambar tanpa lauk pauk, sayur mayur. Tapi, tidak demikian bagi para petani yang menghabiskan setiap siangnya di sawah-sawah garapannya di bawah terik matahari.

Keringat mereka bercucuran seiring dengan kerasnya tanah sawah dan beratnya mencabut gulma – gulma demi melihat padi tumbuh dan memberikan hasil yang baik. Dari sanalah, setiap butir nasi kita berasal..

Setiap butiran yang kita makan disitu ada jerih payah dan cucuran keringat petani, hargailah jasa petani, walaupun hanya dengan cara tidak menyisakan butiran nasi dipiring kita.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed