oleh

Membantu Belum Tentu Mendidik

Ilustrasi/ sumber gambar google

GAYO LUES RADAR NEWS-Semenjak Aceh dilanda konflik dan bencana alam Tsunami Tahun 2004 silam, setelah itu bermacam bentuk bantuan diberikan Pemerintah kepada masyarakat, termasuk ke Kabupaten Gayo Lues, bantuan tersebut ada yang bersumber dari APBD, APBA dan APBN, baik Bantuan Langsung Tunai (BLT) maupun barang atau jasa, tentu bertujuan untuk mensejahteraan masyarakat.

Belum lagi di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini, Pemerintah telah mengucurkan dana desa setiap tahun untuk seluruh Aceh, tidak terkecuali diseluruh desa yang ada di kabupaten Gayo Lues, hal ini juga bertujuan untuk mensejahterakan Rakyat

Kendati demikian, hingga kini Badan Pusat Statistik (BPS) belum mengeluarkan data bahwasanya Gayo Lues bukan lagi Kabupaten Termiskin di Provinsi Aceh, itu artinya sesui data yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah tersebut diawal tahun 2016 lalu, Negeri Lembah Leoser ini masih tercatat sebagai Kabupaten termiskin di negeri rencong.

Tujuan mulia pemerintah dalam mensejahterakan masyarakatnya dengan menyalurkan berbagai bentuk bantuan belum tentu mendidik kearah yang lebih baik serta berdampak positif, justru sebaliknya kadang kala malah menjadikan masyaramat terbiasa dengan menerima bantuan tanpa ada niat untuk berkembang “terkesan dimanjakan” dengan catatan tidak untuk semua golongan.

Ketika pemerintah mengambil sebuah kebijakan, seperti menarik subsidi misalnya, masyarakat akan berteriak dan protes, walaupun disisi lain hal itu belum tentu merugikan mereka, hal demikian dipengaruhi karena mereka tidak terbiasa dengan itu semua.

Bila yang didapat tidak sesuai keinginan, seorang pemimpin dinilai tidak propesionsl, kadang kala sering dibandingkan dengan pemimpin yang terdahulu. “Bapak ini tidak seperi Bapak dulu”

Kemandirian menjadi paktor penentu bagi masyarakat menuju sejahtera, namun untuk merubah sikap dan kebiasan yang selama ini tidak sesuai harapan tidaklah mudah.

Tidak jarang penerima bantuan mengharapkan diberikan uang dari pada disuguhkan jenis barang, anehnya lagi bila diberikan barang kemudian diuangkan (dijual), “tidak jelas tujuanya apa”.

Untuk merubah kebiasaan yang tak terpuji itu merupakan sebuah tantangan bagi semua pihak yang bergerak dibidang kesejahteraan dan juga SDM.

Bila dikaitkan dengan SDM, hal wajar bila masyarakat terus berkeinginan untuk mendapat bantuan, hal yang tidah wajar itu bila ada pejabat disuatu daerah ikut-ikutan minta bantuan juga. (Syukri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed