oleh

Ketika Sepatu Pantofel Lebih Berdaya Magis daripada Isi Otak

Gambar ilustrasi

GAYO LUES RADAR NEWS-Penampilan menarik, rapi memang di zaman yang sudah menggaungkan modern ini adalah pilihan utama. Berpenampilan menarik diindentikkan dengan sukses. Berbanding terbalik dengan zaman dulu, tampilan bersih bisa jadi orang pemalas dan tentunya dibenci.

Kumel merupakan ciri orang pekerja keras, dengan catatan bukan kaum juragan, tapi jelata. Di zaman ini berpenampilan agak awut-awutan—masih sopan—berpeluang besar dikucilkan dalam ranah sosial. Lebih parah lagi bisa dicap stres. Pasti menjadi sasaran bullian jika tidak mengikuti perkembangan fashion. Seolah wajib saja.

Pada era ini, fashionable merupakan rujukan dasar dalam menentukan derajat manusia. Seakan-akan jika ia pergi bekerja mengenakan sepatu pantofel dan berbaju dinas, pasti oye! Perihal ‘otak’ dan penghasilan dikesampingkan.

Seorang gadis yang dianugrahi cap Pemda, perawat dan bidan, atau menjadi staf di suatu kantor—gak jelas kantornya—pasti berdaya ‘jual’ tinggi dibanding gadis biasanya. Pihak wali tak akan melepas hanya dengan besaran mahar sama dengan gadis yang menurutnya berderajat lebih rendah.

Selain itu pihak pelamar juga dinilai kekiniannya. Menjadi pembenar, agar jangan coba-coba melamar gadis berderajat seandainya kamu cowok biasa. Hal ini terutama di daerah-daerah. Terkhusus daerah penulis.

Oleh sebab itu, pria dan wanita yang telah melalui pendidikan tinggi berlomba dengan segenap jiwa dan raga untuk mendapatkan nilai plus tersebut. Didukung oleh orang tua, baik dengan panjatan do’a dan limpahan material tak terhingga siap dihanguskan, maupun pelobian pada pemangku kuasa.

Semua itu juga demi martabat baik di mata masyarakat. Pemakzulan itu menjadi ringan akan tetapi berat dengan kondisi negeri kini, yang super koruptif, manipulatif dan nepotisme. Ringan bagi yang dekat dengan ‘bara’ dan bergelimang harta, dan berat bagi sebaliknya. Ditambah dengan adanya pesta demokrasi akan berlangsung. Hal ini menjadi senjata jitu untuk ‘sosok’ yang sedang ‘berjudi’. Menarik perhatian pemegang hak suara dengan modal ‘jika nanti’ lolos dan bisa ditebak pihak seberang akan jadi korban.

Melihat peta perpolitikan begitu berperan di semua lini, sebagian mahasiswa jadi berpikir bahwa isi otak tidak penting untuk memperoleh pekerjaan, dan mengamalkannya. Uang dan kedekatanlah pegang peranan. Tiba-tiba pada waktunya, tanpa usaha berarti sebelumnya, mereka lulus. Bisa jadi IPK yang tertera di ijazah lebih meyakinkan dibanding temannya—sudah jelas menumpahkan keringat untuk mendapatkannya.

Pemenuhan hasrat narsisme ini juga menjadi sangat ironis di saat negeri ini kekurangan ‘nutrisi’, di situ pula semua merenggek menyusu pada Ibu Pertiwi, padahal tubuh ringkih si ibu sedang diisap ‘hantu’ dengan begitu rakusnya, membabi buta menimbun energi, dituju untuk generasinya agar sampai ‘kiamat’ tidak kelaparan.

Di mana para “pemburu hantu” yang disewa dengan mudah dikibuli, bahkan oleh hantu yang masih lugu. Hingga menjadikan anak yang kurang asupan ‘ASI’ berubah wujud, meniru cara hantu dengan dampak lebih menyakitkan.

Bersandar saja tanpa mencari formula baru untuk mengubah kekurusan menjadi kegemukan—yang nantinya menjadi daya ‘bernafas’ dan mengayomi lebih. Jangankan mencari formula baru, yang sudah tersedia, hanya tinggal melarutkan saja dengan proses singkat dapat menjadi suntikan ‘vitamin’ untuk Ibu Pertiwi diabaikan, alasannya gengsi. “Masak sarjana bertani, nambal ban dll?”

Di daerah penulis begitu kentara dengan anomali ini. Lebih baik menjadi honorer dengan gaji kecil daripada mengelola usaha atau bertani yang perbandingan pendapatannya bisa berlipat-lipat. Mereka ini ‘lebih memilih gaya ketimbang jajan’. Perihal cara— Almarhum KH. Zainuddin MZ mode on—jujur saja mah sampai kapan? #Hikz

Dengan honor sekitar Rp. 500rb/bulan di masa ini, walaupun masih terisolir rasanya tidak cukup. Bagaimana mau cukup, paket Smartphonenya aja Rp. 100rb, lain lagi uang rokok, bensin dan tentu biaya untuk menenuhi gaya kekinian: traktir pacar.

Lebih parah dan memalukakan lagi, untuk menutupi kekurangan, pemuda penerus ini tidak malu menyodorkan tangan pada orang tua dari dulu ketika masih balita, toh memang orang tua juga mendukung demi kedudukan keluarga.

Pedoman aneh orang tua yang punya anak tamatan perguruan tinggi harus bekerja dengan penampilan enak dilihat oleh mata—setidaknya menggunakan seragam —telah berakar urat, dan siap diestafetkat. Mereka lupa dengan khotbah katib jum’at lalu, bahwa Rasulullah SAW telah menyatakan pada sahabat menilai baik buruk seseorang bukan dari tampang.

Selain sarjana, pedoman ini menjadi ganjil di mata anak-anak sekolah. Menurut mereka bergelut di dunia pendidikan semata-mata hanya untuk kerja. Sebagian mereka jadi malas sekolah karena kondisi orang tua tidak mampu melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

Pemaksaan kehendak tersebut menjadi sangat tidak enak dipandang. Kantor-kantor pemerintah dipenuhi pegawai honorer, yang belum tentu bekerja dengan benar, atau tidak sesuai kebutuhan. Di sini pihak penerima mendapat tanda tanya besar.

Di puskesmas kecamatan daerah penulis misalnya, baik ada pasien berkunjung atau tidak, suster-suster penuh sesak hingga kursi pun tidak mampu dipenuhi Puskesmas. Kadang penulis dan pemuda lainnya belajar akting, pura-pura sakit agar dapat mencuri pandang pada ‘Bidadari-bidarari’ yang berkeliaran. Siapa tau dapat bermain mata. #hadoh.

Di lain posisi masih banyak terlihat pegawai dengan seragam Pemda dan masih jam kerja berkeliaran di tempat umum. Seolah negeri ini tidak ada masalah lagi untuk diselesaikan. Padahal masih tercatat kabupaten miskin oleh BPS, lain lagi tentang rendahnya mutu pendidikan yang sudah bisa dikategorikan kronis. Ah, mungkin saja mereka dinas luar? Iya sih.

Tapi kalau ibu-ibu berseragam PNS yang barusan masuk jam 9 pagi tadi, sekarang ini pada jam 10 sudah nongkrongin anak di gerbang TK, dan belum tentu balik kantor lagi, apa punya surat izin juga ya? Ah, itu lain cerita. #Hekz!

Fenomena pemenuhan narsis (tidak benar) ini menjadi keanehan tinggi sebagai ciptaan Tuhan yang punya otak. Lebih absurd lagi jika merengkuhnya tidak murni, dan paling parah tidak bisa kerja. Bukankah absurdisme tingkat ‘dewa’ terlihat di kejadian ini? Di mana ada pemaksaan kehendak dengan menghalalkan segala cara, dan pemegang takdir dengan mudahnya menakdirkan.

Sekali lagi sebuah tanda tanya besar untuk pemangku kuasa. Loe pade pelayan rakyat, jangan mengaduk-aduk air yang memang sudah keruh, tapi berusaha menjernihkan! Untuk pemburu-termasuk saya, hikz- yakinlah hidup bukan semata-mata tentang ‘penampilan’, walaupun di lain pandangan memang penting adanya.

Akhirnya, sedikit dari saya, jika begitu kejadiannya saya lebih memilih jadi pengaduk tanah saja. Dengan catatan: mungkin alasan ini, barangkali karena saya belum dapat atau berhasil saja. #Hadoh!

Oleh : Gayoku

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed