oleh

Kelompok Tani Jangan Hanya Muncul Ketika Ada Bantuan


Kelompok Tani adalah kumpulan petani, peternak atau pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggotanya.

Kemudian Kelompok tani juga merupakan organisasi non formal diperdesaan yang ditumbuh kembangkan atas dasar karena Saling kenal, akrab dan saling percaya diantara sesama anggota

Selain itu Kelompok Tani juga mempunyai pandangan dan kepentingan yang sama dalam berusaha tani, memiliki kesamaan dalam tradisi dan atau pemukiman, hamparan usaha, jenis usaha, status ekonomi maupun sosial, bahasa, dan idiologi

Yang menjadi landasan Pengertian kelompok tani tersebut Berdasarkan Surat Keputusan Menteri pertanian Repoblik Indonesia Nomor : 273/Kpts/OT.160/4/2007.

Sementara untuk pungsi Kelompok tani itu sendiri merupakan wadah belajar mengajar bagi anggotanya guna meningkatkan pengetahuan , keterampilan dan sikap (PKS) serta tumbuh dan berkembangnya kemandirian dalam berusaha tani sehingga produktivitasnya meningkat, pendapatannya bertambah serta kehidupannya yang lebih sejahtera

Kelompok tani juga merupakan tempat untuk memperkuat kerjasma diantara sesama petani dalam kelompok tani dan antar kelompok serta dengan pihak lain. Melalui kerjasama ini diharapkan usahataninya akan lebih efisien serta lebih mampu menghadapi tantangan.

Namun saat ini untuk kabupaten Gayo Lues sendiri keberadaan kelompok tani yang berjumlah sekitar 866 kelompok, belum begitu di manfaatkan sebagai wadah pembelajaran bagi Petani.

Para petani kebanyakan lebih pokus dan menunggu bantuan dari Pemerintah, seakan kelompok tani ini hanya muncul ketika ada bantuan saja, sementara hal tersebut tidak mendiduk untuk kemandirian kelompok itu sendiri.

Bukan hanya itu, saat ini kelas kelompok tani di kabupaten Gayo Lues rata-rata masih kelas pemula, oleh karena itu masih banyak terobosan yang perlu dilakukan oleh pemerintah terkait untuk meningkatkan kelas kelompok tani.

Belumpun ada peningkatan pada kelembagaan petani ini, namun masih banyak petani yang ingin membentuk kelompok tani baru dan merubah kelompok lama, yang bertujuan hanya ingin mendapat bantuan.

Dengan kondisi seperti ini, bila dilihat dari satu sudut pandang, yang salah itu adalah intansi yang menjadi mitra kelembagaan petani tersebut, namun belum tentu sepenuhnya kesalahan ada pada intansi yang berkopenten dalam bidang pertanian.(Syukri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed