oleh

Jalan Buntu Pengesahan APBA 2018, Elit Aceh Dianggap “Kekanak-kanakan”

Banda Aceh, Radarnews : Pengesahan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun 2018 menemui jalan buntu. Dari batas waktu deadline pembahasan di DPR Aceh antara eksekutif dan legislatif sudah deadlock (sudah berakhir) pada tanggal 27 Februari 2018.

Ketidaktercapainya kesepakatan antara elit Aceh (legislatif-eksekutif) untuk membahas anggaran sekitar Rp14,7 triliun itu disesalkan oleh semua pihak. Bahkan mereka dianggap Kekanak-kanakan.

“Kondisi ini cukup menggambarkan bagaimana buruknya perencanaan pembangunan Pemerintah Aceh dalam satu dekade terakhir,” kata Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Alfian di Banda Aceh, Rabu (28/2/2018).

Alfian menyesalkan kegagalan elit Aceh menyelesaikan kewajibannya untuk melakukan pembahasan anggaran tepat waktu. Walaupun ini bukan kejadian pertama, namun hal ini semakin memperpanjang daftar buruk kegagalan Pemerintahan Aceh dalam hal perencanaan dan penganggaran.

“Sejak tahun 2005, hanya pada tahun 2014 APBA disahkan tepat waktu, selebinya molor. Artinya sejak 2005 tahun ini tepat 13 kali kita sudah terlambat. Tahun ini pula Aceh sebagai provinsi paling terlambat dalam melakukan pengesahan anggaran secara nasional,” ungkapnya.

Menurutnya, dari informasi yang diperoleh, Gubernur Aceh telah menyurati Ketua DPRA untuk memberitahukan bahwa batas waktu persetujuan bersama antara Gubernur dan DPRA terhadap Rancangan Qanun Aceh tentang RAPBA 2018 menjadi Qanun Aceh tentang APBA 2018 telah berada di tenggat waktu.

Surat bernomor 903/7601 tersebut juga mengindikasikan bahwa RAPBA 2018 akan disahkan dengan Peraturan Gubernur apabila hingga batas waktu tersebut RAPBA 2018 belum mencapai kesepakatan bersama.

Alfian menuturkan, agenda pertemuan pembahasan anggaran beberapa kali gagal dilakukan. Berbagai alasan mengemuka, eksekutif dan legeslatif masing-masing memiliki argumentasinya sendiri.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan, menunjukkan bahwa kepentingan elit lebih diutamakan daripada membahas kepentingan masyarakat banyak. Jika untuk bertemu saja gagal, bagaimana mungkin kesepakatan bisa didapat. Ini sangat merugikan masyarakat Aceh,” tegasnya.

MaTA menilai, Pemerintah Aceh (eksekutif dan legeslatif) tidak serius melakukan pembahasan anggaran. Ini menunjukkan sikap kenak-kanakan elit Aceh dalam menjalankan amanah rakyat.

“Walau secara regulasi dimungkinkan RAPBA 2018 disahkan dengan Peraturan Kepala Daerah, namun ini menjadi preseden buruk dalam perencanaan dan penganggaran Aceh,” pungkasnya. (Mj/WDA)/RRI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed