oleh

“Jaga Jarak”, Antisivasi Tha’un

Ilustrasi (Sumber gambar google)

OPINI– Jangan dinilai sombong jika seseorang menjaga jarak dengan kita, sebab saat ini situasi di Negeri ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Covid-19 penyebab dari corona kian meraja lela, bahkan sudah merunggut nyawa sejumlah umat manusia.

“Corona”, virus yang keberadaanya menjadi dilema bagi rakayat Indonesia, diketahui tahun lalu pertama kali muncul di Wuhan sebuah kota kecil di negara cina, namun kini kian meresahkan isi se jagat raya.

Sempat menjadi teka teki, dicurigai bahwa mahluk kecil itu adalah ciptaan manusia diperuntukan sebagai senjata biologis, namun rumor tersebut terbantahkan oleh para ilmuan. Virus ini tidak bisa dibuat secara genetik, diyakini Ia muncul secara alami atas Izin yang maha Kuasa (Allah SWT).

“Mungkin ini sebagai peringatan bagi mereka yang memiliki sipat angkuh dan sombong, diuji melalui parasit, Perspektif wabah di zaman Rasulluah SAW disebut Tha’un”.

Salah satu hadits Rasulullah menyinggung tentang ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahìhnya, Kitab Ahadits Al-akhuya, Bab Hadits Al-Ghar, Hadits no 3215.

Dari ‘Aisyah ra berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tha’un lalu beliau mengabarkan bahwa tha’un adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum mu’minin. Dan tidak ada seorangpun yang menderita tha’un lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala dan mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentaqdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid”. (HR. Muslim)

Tak seorangpun mau terjangkit corona, sebab jika sudah terjangkit tha’un ini seseorang sudah dialamatkan diantara hidup atau mati, jika sudah demikian kebanyakan diantara kita hanya bisa menjadi penonton. “Persoalan ini tidak bisa dianggab remeh”.

“Jaga jarak” salah satu upaya evektif untuk mengtisivasi penularan virus corona. Saat genting seperti sekarang bila bertemu dengan sesama tidak perlu saling bersentuhan dengan metode salaman, cukup saling tegor sapa dengan jarak, ” Ya kira-kira sekitar dua meter minimal”.

“Jika seserang menjaga jarak bukan berarti dia sombong, bisa jadi itu salah satu bentuk kasih sayang”.

Oleh pemerintah, mengantisivasi penularan corona bermacam upaya dilakukan meskipun harus menghentikan rutinitas di kantor, sekolah bahkan kegiatan keagamaan.

Bagi sebahagiaan rakyat jelata ada juga berkometar miring tentang sikap pembuat kebijakan dengan berkata “Ta sesana pemerintahni entap ni Corona sekolah i liburen”- Red Gayo. (“Ada-ada saja pemerintah inipun, masak gara-gara Corona sekolah diliburkan”.)

Tidak perlu sakit hati, ini hanya salah paham, mereka masih perlu penjelasana, dari kamu, “Iya kamu..!”

“Jaga Jarak” itu penting untuk menghindari penularan corona alias Tha’un.

Selama dua pekan, warga diintruksikan supaya jagan keluar rumah, jika tidak ada kepentingan, ini juga salah satu langkah pencegahan wabah, namun pembuat kebijakan masih tetap menjadi sasaran bulian

“Bagai mana tidak keluar rumah, kalau kami tidak kerja kami tak makan. kalau bapak walaupun tidak keluar remah ada gajinya” dimikian diucapakan.

Jagan terlalalu diambil hati, ini karena faktor ekonomi, mereka panik jika rutinitasnya terhenti otomatis tidak ada yang dihasilkan.

Semua berharap dan bermunajat, sudian ini cepat berlau agar semua kembali beraktifitas separti biasa.

News Feed