oleh

Didong Sesuk atau Didong Ilet

Acara didong/ sumber gambar google

GAYO LUES RADAR NEWS-Beragam kesenian asli milik masyarakat Suku Gayo Lues dapat kita jumpai di kota dingin yang sering kita kenal dengan sebutan daerah Seribu bukit, selain saman dan bines, masih ada satu lagi kesenian khas daerah ini yang tak kalah menarik untuk di nikmati, dimana kesenian itu juga  memiliki ciri khas tersendiri.

“Didong Sesuk atau Didong Ilet” itulah sebutannya, kesenian ini di mainkan dan diperankan oleh  dua orang laki-laki dengan posisi berdiri (sesuk : red Gayo).

Keduanya secara bergantian saling memberikan  pertanyaan tentang hukum adat dan hukum agama mengunakan bahasa Gayo, namun pertanyaan itu di tuturkan lewat syair nan unik yang  penuh penafsiran sehingga membuat kita terngangah dan penasaran karna kata-kata yang digunakan penyair banyak mengunakan bahasa kias.

Gerakan tubuh dalam kesenian didong ini cukuplah sederhana, langkah kaki dipadukan dengan syair yang diciptakan sesuai dengan tema yang digunakan

Kesenian ini juga melibatkan dua kelompok pemuda-pemudi (penyurak) mereka menyelingi didong dengan berbalas pantun, acara akan sangat terlihat meriah karna sorangkan dan tepuk tangan dari ratusan penyurak itu.

Selama ini tarian didong sesuk biasanya di tampilkan pada hari-hari besar dan pada acara tertentu, seperti pesta Perkawinan dan acara kitanan (sunat), ada juga yang dipentaskan, tujuanya selain untuk menjaga kelestarian seni Daerah Gayo Lues, juga untuk menciptakan kemeriahan ditengah keramayan sekaligus menghibur penonton yang menyaksikan.

Bagi orang-orang yang mengerti tentang apa yang di bahas oleh pengiat didong, sebenarnya hal yang sangat menarik untuk di nikmati, karna yang  dibahas oleh Mereka adalah ilmu adat dan hukum dalam kehidupan Masyarakat Suku Gayo Lues secara umum, tapi cara penyampainya sangat unik dan penuh teka-teki.

Kesenian ini perlu dilestarikan dan
sangatlah disayangkan apa bila generasi muda Gayo Lues tidak berkeinginan untuk mempelajari kesenian ini, dikwatirkan kesenian ini akan punah di telan masa. (Syukri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed