oleh

Di Gayo Lues, Oknum Kepala Sekolah Diduga Pukul Siswanya, Wali Murid “Murka”

Ilustrasi. SumberGoogle

GAYO LUES RADARNEWS– Oknum kepala sekolah (Kepsek) di Kabupaten Gayo Lues diduga telah melakukan pemukulan terhadap SK salah satu siswa kelas III SMP, kejadian ini berlangsung pada kamis tanggal 14 Januari 2021 kemaren di SMP N 3 Blangkejeren, Kecamatan Blangkejeren.

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga korban (Siswa/SK) sangat merasa dirugikan dan menuntut oknum Kepsek bertanggung jawab bila terjadi sesuatu hal terhadap SK, hal ini disampaikan bibik korban atas nama Lusi (35 tahun) warga Kempung Jawa Kecamatan Blangkejeren, Sabtu (16/1/21).

Lusi menjelaskan, Oknum kepsek memukul keponakan nya itu di bagian bawah telingga sebelah kiri, yang mengakitkan korban mengalami gangguan pendengaran. Tidak hanya itu, kata lusi, Keponakannya juga memgalami gangguan mental.

” Sekarang Keponakan saya tidak berani lagi masuk sekolah setelah kejadian ini, dan sudah dibawa ke salah satu rumah sakit di Kuta Cane Kabupaten Aceh Tenggara”, sebut Lusi.

Memang Lusi mengakui dalam kehidupannya sehari-hari Keponakanya SK agak sedikit aktif dan bandel, namun yang menjadi pertanyaan lusi “Apakah bisa dilakukan pemukulan oleh guru terhadap siswa didiknya”.

Saat ini, keluraga korban sudah membuat laporan kepada pihak penegak hukum, namun pihak kepolisian manganjurkan kepada kedua belah pihak agar berdamai saja secara kekeluargaan.

” Iya saya sudah membuat laporan kepada pihak Polres Gayo Lues, dan untuk saat ini mereka mengarahkan berdamai secara kekeluargaan. Jika kasus ini berlanjut namun pihak Polres Gayo Lues tidak menanggapi kami akan naikan ke Polda Aceh”, tutur Lusi.

Lusi menyampaikan, Pihak kepala sekolah juga sudah punya etikat baik mendatangi rumah siswa yang dipukulnya itu, untuk berdamai secara kekeluargaan dan bersedia mengobati korban sampai sembuh.

Untuk perdamaian ini, lusi meminta denda kepada kepsek sebesar RP. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah), sebagai efek jera.

“Boleh berdamai tapi saya meminta dua ratus juta. Tujuannya sebagai efek jera supaya tidak lagi terjadi hal seperti ini di dunia pendidikan”, tukas Lusi.

Lusi (Wali Murid/Bibik korban)

Dihari yang sama, Kepala Sekolah SMP 3 Blangkejeren saat dikonfirmasi membenarkan ada terjadi insiden pemukulan, namun bukan dibagian telinga tapi punggung siswa tersebut.

Ia mengatakan, murid itu dihukum akibat berkeliaran keluar masuk saat jam sekolah, diperkirakan sekitar jam 10 pagi.

“Ada tiga orang yang saya pukul, tapi saya anggap ini bukan kekerasan, hanya tindakan tegas agar murid-murid saya disiplin, inikan mendidik,” ujarnya.

Kepsek itu menjelaskan, tidak sedikitpun dihatinya terbesit untuk menganiaya atau merasa dendam terhadap siswa yang dipukul meskipun SK sering bandel di sekolah.

“Saya memukul bukan karena dendam, ini merupakan salah satu wujud kasih sayang dilakukan oleh orang tua (guru) terhadap anaknya (murid) “, jelas Kepsek.

Menyoal upaya damai, Kepala Sekolah tersebut mengaku, sudah melakukan berbagai upaya dengan mendatangi rumah tempat tinggal korban agar masalah ini selesai secara kekeluargaan.

” Upaya damai secara kekeluargaan sudah ada, namun saya diminta denda sebesar RP 200.000.000 , jelas saya tidak sanggup”, ucap Kepsek.

Sejauh ini Kepsek sudah membuat surat perjanjian diatas matrai, bersedia mengobati SK sampai sembuh jika memang ada cidra pisik atu psikisnya tergangu, namun Kepsek itu juga meminta pada isi surat tersebut dituliskan supaya wali murid tidak lagi memperkeruh suasana dengan menposting persoalan ini ke media sosial, baik fecebook dan sejenisnya.

Pantauan Media RADARNEWS, hingga diterbitkannya berita ini pihak wali murid belum mau menandatangani surat perjanjian itu, karean alasan mau berembuk dulu dengan keluarganya yang lain.

Menyangkut peroalan ini, PGRI Gayo Lues, melalaui Selamat (Wakil ketua PGRI) menilai kasus seperti ini sebisa mungkin diselesaikan secara damai, dan kekeluargaan, jangan sampai hal ini menjadi preseden buruk kedepannya.

“Nanti yang kita takutkan para guru pun mulai tidak berani mendisplinkan siswanya akibat takut dilaporkan,” katanya.

Selamat sangat berharap kedua belah pihak saling introspeksi diri, dan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran bersama.

“Saya kira damai dan diselesaikan secara kekeluargaan lebih baik, begitu kira-kira, saling memaafkan,” katanya.

Informasi tambahan untuk diketahui, Pasal 54 UU 35/2014 Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak Kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, aparat pemerintah, dan/atau Masyarakat.

Bagi yang melanggarnya akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72 Juta. (SR)

 

 

News Feed