oleh

Antara Perjuangan ALA dan Sajak 1966 ” Memang Selalu Demikian, Hadi”

Blangkerejen, Komplek Melati, Sabtu Malam (26/09/2020). (Tulisan ini khusus bagi pejuang ALA, gak tega lihat kalian diomelin sejumlah orang di Medsos, semoga kedepannya kita bisa saling menghargai dan menghormati setiap perjuangan orang lain. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, bersabarlah untuk memahami, setiap peristiwa terjadi selalu ada alasan kuat dibalik semuanya, tetaplah jadi orang berprasangka baik,).

 

Oleh : Abdi Whienargayo (Penulis amatiran)

(Essay)- Renungkan sejenak sajak yang ditulis Taufiq Ismail pada tahun 1966

“Memang Selalu Demikian, Hadi”:

Setiap perjuangan selalu melahirkan Sejumlah pengkhianat dan para penjilat, jangan kau gusar, Hadi

Setiap perjuang selalu menghadapkan kita Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang, Jangan kau kecewa, Hadi

Setiap perjuangan yang akan menang Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian dan para jagoan kesiangan,

Memang demikianlah halnya, Hadi,”.

Apa yang ditulis Taufiq Ismail ini merupakan gambaran nyata tentang perjuangan. Sajak ini tidak akan pernah mati kapan pun, di mana pun itu, ia akan tetap hidup, dan akan terus terjadi mengintai tiap-tiap perjuangan.

Saya adalah salah satu dari ratusan pemuda yang senang berinteraksi dengan para orang tua. Saya akan menjadi pendengar yang baik, ketika mereka menceritakan setiap jengkal perjuangan yang pernah mereka lalui. Banyak hikmah yang saya dapatkan.

Salah satu hikmah terbesar yang saya dapatkan, saya tidak akan pernah meremehkan, setiap perjuangan yang dilakukan sekelompok orang untuk sebuah cita-cita. Meskipun apa yang mereka fantasikan, masih, “bagaikan pungguk merindukan bulan,”.

Jangankan sekolompok orang. Satu orang saja yang bermimpi untuk mencapai impiannya, tidak akan pernah kuat mental saya, untuk meremehkannya. Semua bisa saja terjadi. Mungkin bagi kita mustahil, tapi bagi yang memiliki impian, bukanlah hal yang mustahil untuk mewujudkannya.

Contohkan saja, sejarah perjuangan memekarkan Kabupaten Gayo Lues dari Aceh Tenggara. Pada masa itu, perjuangan ini dianggap mustahil, dan nyeleneh bagi sebagian orang, hanya orang-orang visioner yang berjiwa besar meyakini bahwa Gayo Lues akan berdikari, meskipun kemungkinannya sangat kecil.

Saya sudah pernah bertanya kepada puluhan pejuang pemekaran Kabupaten Gayo Lues. Apa yang mereka sampaikan, ceritanya hampir sama. Dari generasi ke generasi. Setiap jengkal perjuangannya, tak pernah lepas dari yang namanya orang-orang pengkhianat, penjilat dan kaum yang bimbang menghadapi gelombang.

Bertahun-tahun mereka bertahan dengan perjuangan yang sampai tak sampai pada tempat yang diinginkan (Sawah ge sawah), hanya arah cita-cita yang jelas, namun jalannya cita-cita belum ada titik terang. Tapi pejuang tetaplah pejuang, dan akan terus berlari diatas tekadnya.

Meskipun, barisan pengkhianat, penjilat dan kaum yang bimbang menghadapi gelombang pada masa itu, terus menerus melemahkan semangat dan mengintimidasi mereka dengan berbagai celotehannya.

“Ta#’ itu, sok pejuang, perbaiki saja nasib mu, sekolah mu aja lanjutkan, sok hebat, sen kenal, hana oya i urus. Gayo Lues belum siap berpisah,”kata orang-orang ini.

Tapi ingatlah, tatkala Gayo Lues telah sampai pada puncaknya, dan dinyatakan akan mekar, barisan pengkhianat, penjilat dan kaum yang bimbang menghadapi gelombang ini berbondong bondong membuat statemen, “Hidup Gayo Lues, Gayo Lues tempat ku dilahirkan, ton tembuni, tanoh muyang datu ku,”.

Ini adalah fakta. Mental penjilat, pengkhianat, dan kaum bimbang akan terus mencari alasan untuk tidak bertarung, tapi mereka menolak untuk tidak menikmati hasil ketika kemenangan didapatkan, “Memang selalu demikian Hadi”, kata Taufiq Ismail tadi.

Demikian pula, dengan perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Tidak semua meyakini, bahwa, bangsa ini bakal mendapatkan kemerdekaan.

Karena, memang jalan perjuangannya, sudah terlalu lama. Mental penjilat, pengkhianat, dan kaum bimbang bukan hanya pesimisme saat itu, bahkan diantaranya ada yang memilih menjadi budak pasukan Belanda (Marsose) untuk membunuh yang memiliki keinginan untuk merdeka dan menolak taat kepada kaum penjajah.

Hari ini, soal perjuangan pemekaran ALA, hanya berbeda zaman dan peristiwa. Saksikanlah kelompok-kelompok pejuang. Lihatlah prilakunya mental penjilat, pengkhianat, dan kaum bimbang. Kapapun, dan di mana pun jalannya perjuangan tetap sama, “Memang selalu demikian Hadi”, kata Taufiq Ismail tadi.

Ingatlah, perjuangan ALA bukanlah makar, mereka hanya ingin mekar. Memekarkan suatu daerah adalah sah, tidak melawan UU apapun. Bukan pula suatu bentuk kebinasaan. Apalagi pengkhianatan. ALA adalah aspirasi, ALA hanya ingin berdikari, hanya berpisah secara administrasi, dan tetap satu barisan dalam naungan NKRI.

Jalannya ALA memang tak mudah, perjuangannya telah berpuluh puluh tahun. Segala lika-likunya telah dirasakan, pupus ditengah jalan akibat pengkhianatan, dan ada yang memanfaatkan keadaan untuk kepentingan pribadinya. Itu semua pernah terjadi.

Hancur, bangkit lagi. Hancur bangkit lagi. Begitulah perjuangan, persis seperti cerita pemekaran Kabupaten Gayo Lues dan cerita perjuangan lainnya. Sampai tak sampai. Amat sangat membosankan. Lain lagi, segala cobaan, dan rayuan yang terus berdatangan.

Tapi, percayalah, bagaimana pun terjal jalannya perjuangan. Pejuang akan tetap berjuang, dan akan terus-menerus berlari mencatat sejarahnya yang akan dikenang sepanjang masa.

Dalam catatan sejarah, banyak pejuang pejuang di Indonesia gagal mewujudkan impiannya pada masa penjajahan. Demikian pun, hingga hari ini, namanya tetap harum, dan terus dipuja-puja bangsa.

Sementara, mental penjilat, pengkhianat, dan kaum bimbang menghadapi gelombang, tidak akan selamanya begitu. Percayalah!

Para pejuang, agaknya tidak perlulah berkecil hati dengan orang-orang ini. Mereka juga suatu saat akan berubah seketika, ketika ALA sudah menjadi bagian program strategis Pusat.

Ya, mereka akan berubah seketika, berubah seperti diakhir bait sajak Taufiq Ismail, “Pahlawan jadi-jadian dan para jagoan kesiangan. Memang demikianlah halnya”. Selesai.

 

News Feed