oleh

Meski Tidak Ada Bantuan, Petani Tetap Menanam

Para petani di Desa Rema Baru sedang menanam jagung

GAYO LUES RADAR NEWS– Setelah sekian lama dilanda kemarau panjang, kini Kabupaten Gayo Lues menghadapi musim hujan, masyarakat setempat yang berprofesi sebagai petani kembali menanam komoditi andalan mereka, baik tanaman perkebunan, tanaman pangan, atau hortikultura.

Musim tanam dilahan kering sangat berpengaruh dengan keadan cuaca, bila sedang kemarau biasanya petani di wilayah ini jarang bercocok tanam lantaran tidak mau menanggung resiko jika gagal panen akibat kekurangan air.

Namun bila saja musim basah tiba mereka akan kembali menanami lahan yang sudah siap diolah. Dengan demikian, itu artinya sejumlah petani di Kabupaten Gayo Lues sangat bergantung dengan keadaan cuaca bila ingin bercocok tanam, bukan bergantung dengan bantuan Pemerintah.

Seperti para petani jagung di desa rema baru Kecamatan Kutapanjang misalnya, mereka tetap melakukan budidaya jika cuaca sudah mendukung, karena pertanian merupakan sektor yang terus terlibat untuk menopang ekonomi.

“Alhamdulillah seminggu terakhir sudah kembali hujan setelah lama dilanda kemarau, kami disini sudah bisa menanam jagung” kata M yunus salah satu anggota kelompok Tani sara ate Desa Rema baru saat dijumpai ketika sedang menanam jagung dilahannya, Selasa (18/09/18).

Dikatakan, dalam setahun mereka melakukan budidaya jagung dua kali musim tanam dilahan bekas sawah yang tidak bisa diairi, hal ini rutin dilakukan karena kebutuhan ekonomi sangat bergantung kepada biji jagung hasil panen.

Kebetulan jagung yang di tanam M yunus benih bantuan pemerintah yang disalurkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Gayo Lues melalui kelompok tani.
“Benih yang ditanam ini adalah bantuan dinas pertanian, kami mengucapkan terima kasih atas bantuan ini” katanya lagi

Walau dibantu benih kata Yunus, mereka tidak bergantuang setelah ada bantuan pemerintah tersebut baru menanam, namun walaupun tidak ada bantuan petani di wilayah ini tetap bercocok tanam.
“Secara peribadi terus terang kami mengharap bantuan itu, namun bukan berarti bila tidak ada bantuan kami tidak menanam” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan Angsar petani yang satunya lagi, sudah bertahun-tahun bekas lahan sawah milik petani disekeliling mereka dijadikan hamparan tanaman jagung, masing-masing diantara pelaku budidaya ini mengelola lahan dengan menanam jenis tanaman pangan yang satu ini.

” Setiap habis musim panen pertama,  kami langsung mengolah lahan untuk tanam kedua, begitu seterusnya ” kata Ansar.

Tidak harus menunggu bantuan pemerintah, dengan modal sendiri atau bekerja sama dengan pihak penyedia modal (kios pertanian) petani desa rema baru secara terus menerus menanam dilahan masing-masing.

Dikelompok tani Sara Ate, kerja sama anggota sangat diutamakan, dengan sistem saling membantu (Panglo : Red Gayo) memudahkan mereka melakukan budidaya, disamping itu dengan sitem “panglo” yang diterapkan sedikit tidaknya bisa menghemat biaya produksi.

“Biasanya kami disini menanam sistemnya panglo, jika hari ini ketempat si petani A, besoknya lanjud menanam di lahan petani B, dengan demikian bisa menghemat modal” kata petani yang dua itu. (Syukri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed